AL-QUR'AN HADITS KELAS 11

Senin, 04 Juni 2018

BAB II - HIDUP LEBIH DAMAI DENGAN MUJĀHADATUN-NAFS, HUSNUD-ZANN, DAN UKHUWAH


BAB II - HIDUP LEBIH DAMAI DENGAN MUJĀHADATUN-NAFS,
HUSNUD-ZANN, DAN UKHUWAH
QS. al-Anfāl [8]: 72


¨Terjemah Ayat
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhājirīn), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Anfāl [8] : 72).

Penjelasan QS. al-Anfāl [8]: 72
Dalam peristiwa hijrahnya Nabi bersama sahabat ke Madinah, terdapat tiga golongan; Pertama adalah kaum Muhājirı̄n yaitu orang-orang yang berhijrah bersama Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam dari Mekah ke Madinah. Mereka mengalami kekerasan, penyiksaan dan kekejaman yang dilakukan oleh kaum kafir tetapi mereka tetap sabar dan tetap dalam iman. Kedua adalah kaum Anṣār yaitu orang-orang Madinah yang beriman kepada Allah subḥānahū wa taʻālā, berjanji kepada Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam dan kaum Muhājirı̄n untuk bersama-sama berjuang di jalan Allah. Mereka bersedia menolong dan berkorban dengan harta dan jiwanya demi keberhasilan perjuangan Islam. Allah memberikan dua sebutan mulia kepada mereka sebagai “pemberi tempat kediaman” dan “penolong dan pembantu”. Ketiga adalah kaum yang tidak termasuk dalam keduanya, mereka tetap tinggal di Mekah yang dikuasai oleh kaum kafir. Mereka tidak dapat disamakan dengan kaum Muhājirı̄n dan kaum Anṣār karena mereka tidak berada dalam lingkungan masyarakat Islam, tetapi hidup di lingkungan orang-orang kafir. Oleh karena itu, hubungan antara mereka dengan kaum muslimin di Madinah tidak dapat disamakan dengan hubungan antara kaum Muhājirı̄n dan kaum Anṣār dalam masyarakat Islam. Hubungan antara sesama mukmin di Madinah sangat erat bahkan seperti saudara satu keturunan yang tidak lagi membedakan hak dan kewajiban. Hubungan antara mereka dengan mukmin di Madinah hanya diikat atas dasar keimanan saja.
Kaum Muhājirı̄n dan kaum Anṣār telah memberikan teladan dalam mujāhadatunnafs. Secara bahasa mujāhadah artinya bersungguh-sungguh, sedangkan an-nafs artinya jiwa, nafsu, diri. Jadi mujāhadatun-nafs artinya perjuangan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu atau bersungguh-sungguh menghindari perbuatan yang melanggar hukum-hukum Allah subḥānahū wa taʻālā. Dalam bahasa Indonesia mujāhadatun-nafs disebut dengan kontrol diri. Kontrol diri merupakan salah satu perilaku terpuji yang harus dimiliki setiap muslim.
Menurut Al-Qur’an nafsu dibagi menjadi tiga, yaitu :
1.      An-nafsul-ammārah, yaitu nafsu yang mendorong manusia kepada keburukan sebagaimana yang dinyatakan dalam QS. Yūsuf [12]: 53
*Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS.Yūsuf [12]: 53).
2.      An-nafsul-lawwāmah, yaitu nafsu yang menyesali setiap perbuatan buruk
sebagaimana dinyatakan dalam QS. al-Qiyāmah [75]: 2
 
Dan aku tidak bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).
(QS. Al-Qiyāmah [75]: 2).
3.      An-nafsul-muṭmainnah, yaitu nafsu yang tenang sebagaiman dinyatakan dalam QS. al-Fajr [89] : 27-30
 
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. al-Fajr [89] : 27-30).

Dari ketiga nafsu yang disebutkan al-Qur’an tersebut, dapat diketahui bahwa an-nafsul-ammārah mendorong manusia untuk berbuat maksiat. Kemaksiatan akan menjauhkan kita dari rahmat Allah subḥānahū wa taʻālā serta akan menimbulkan kegelisahan dalam hati. Oleh karenanya Islam mengajarkan mujāhadatun-nafs supaya hidup kita bahagia dunia dan akhirat.
Hawa nafsu memiliki kecenderungan untuk mencari berbagai macam kesenangan dengan tidak mempedulikan aturan agama. Jika kita menuruti hawa nafsu maka sesungguhnya hati kita telah tertawan dan diperbudak oleh hawa nafsu itu. Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam menyebut jihad melawan hawa nafsu sebagai jihad besar (jihādul-akbar), sedangkan jihad berperang di medan peperangan sebagai jihad kecil (jihādul-aṣgar). Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan jihad melawan nafsu berarti jihad melawan hal-hal yang menyenangkan, digemari, dan disukai. Sedangkan jihad berperang di medan peperangan adalah jihad melawan musuh yang kita benci. Bukankah menghindari sesuatu yang kita senangi jauh lebih berat daripada menghindari sesuatu yang kita benci? Perhatikan hadisberikut ini:
Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh bersabda: “Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu).” (HR. al-Bukhārı̄).

QS. al-Ḥujurāt [49]: 12
Terjemah Ayat
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang” (QS. al-Ḥujurāt [49]: 12).

Penjelasan QS. al-Ḥujurāt [49]: 12
QS. al-Ḥujurāt ayat 12 berisi tentang larangan berprasangka buruk (su’uẓ-ẓann). Berprasangka buruk merupakan perilaku tercela yang harus dihindari. Sebaliknya, orang beriman diperintahkan untuk berprasangka baik (ḥusnuẓ-ẓann), baik itu ḥusnuẓ-ẓann kepada Allah subḥānahū wa taʻālā, kepada sesama manusia, maupun kepada diri sendiri.
1.                  Ḥusnuẓ-ẓann kepada Allah subḥānahū wa taʻālā, maksudnya berprasangka baik kepada Allah subḥānahū wa taʻālā. Dia memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang, dan mencintai hamba-Nya yang saleh, serta tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Dalam sebuah hadis qudsi dinyatakan: “Saya mendengar Rasūlullāh ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam bersabda dari Allah ‘azza wajalla, “Saya berada pada persangkaan hamba-Ku, maka berprasangkalah dengan-Ku sekehendaknya” (HR. Ahmad).
2.                   Ḥusnuẓ-ẓann kepada orang lain. Orang beriman dilarang untuk berprasangka buruk kepada orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain dan larangan menggunjing orang lain. Sungguh, perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa, bahkan Allah subḥānahū wa taʻālā mengibaratkan orang yang menggunjing seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati. Bukankah hal ini sangat menjijikkan. Sebagai muslim kita harus hidup berdampingan dengan sesama muslim yang lain serta menghormati hak dan kewajibannya. Rasūlullāh ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam bersabda, yang artinya:
Dari Abū Hurairah dia berkata, Rasūlullāh ṣallāllāhu ʻalaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana orang muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya” (HR. at-Tirmiżı̄).
3.      Ḥusnuẓ-ẓann kepada diri sendiri. Seseorang yang berprasangka baik kepada diri sendiri akan memiliki sikap percaya diri, optimis dan bekerja keras. Sebaliknya, jika seseorang berburuk sangka kepada diri sendiri maka ia akan merasa pesimis, tidak percaya diri, dan malas berusaha. Allah subḥānahū wa taʻālā melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya sebagaimana QS. Yūsuf [12] ayat 87 berikut ini.
 

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yūsuf [12]: 87).


QS. al-Ḥujurāt [49]: 10
Terjemah Ayat
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-Ḥujurāt [49]: 10).

Penjelasan QS. al-Ḥujurāt [49]: 10
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara. Persaudaraan (ukhuwah) diantara sesama mukmin adalah persaudaraan yang dilandasi oleh persamaan aqidah dan keimanan kepada Allah subḥānahū wa taʻālā. Persaudaraan yang didasari oleh nilai-nilai Islam dikenal dengan istilah ukhuwah islāmiyyah. Ukhuwah islāmiyyah mencakup :
1. Ukhuwah Dīniyyah, yaitu persaudaraan yang didasari oleh persamaan agama. Persaudaraan seagama dan seiman inilah yang dimaksud oleh QS. Al-Ḥujurāt ayat 10.
2. Ukhuwah Waṭāniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan karena satu bangsa dan keterikatan keturunan.
3. Ukhuwah Insāniyyah atau Basyāriyyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama manusia. Ukhuwah Dīniyyah akan memperkokoh tegaknya kehidupan masyarakat yang aman dan tenteram. Ukhuwah akan memunculkan solidaritas dan timbulnya kepedulian sosial di masyarakat. Sebagai sesama mukmin, kita harus mampu menjaga martabat dan kehormatan sesama mukmin. QS. Al-Ḥujurāt ayat 10 menghendaki ukhuwah kaum mukmin harus benar-benar kuat, lebih kuat dari persahabatan dan pertemanan biasa. Kita laksanakan hak dan kewajiban dengan penuh tanggung jawab. Rasūlullāh bersabda:
عن ابي موسى الا شعري قال: قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن للمؤمن كا لبنيا ن يشد بعضه بعضا { روا ه الترمذي }
Dari Abū Mūsa al-Asy›arī, ia berkata; Rasūlullāh bersabda: “Antara seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya adalah bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR. at-Tirmiżı̄).

Persaudaraan akan menjadikan kehidupan yang harmonis, diliputi rasa saling mencintai, saling menjaga perdamaian dan persatuan. Jika terjadi perselisihan diantara mereka, maka Allah subḥānahū wa taʻālā memerintahkan untuk mendamaikan keduanya dengan mencari solusi sesuai syariat Allah subḥānahū wa taʻālā dan rasul-Nya. Perselisihan diantara kaum muslim tidak menyebabkan salah satunya keluar dari Islam, mereka tetap bersaudara. Mereka harus didamaikan (iṣlāh) dengan cara-cara yang islami.

Hadis
ابو هريرة يا ثر عن النبي صلى الله عليه وسلم قا ل ا يا كم والظن فا ن الظن اكذب ولا تجسسوا ولا تجسسوا ولا تبا غضوا وكو نوا اخوا نا ولا يخطب الرجل على خطبة اخيه حتى ينكح او يترك { روا ه البخا ري }  
Terjemah Hadis
Abū Hurairah berkata, satu warisan dari Nabi, beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara. Janganlah seorang laki-laki meminang atas pinangan saudaranya hingga ia menikahinya atau meninggalkannya.” (HR. al- Bukhārı̄).

Penjelasan Hadis
Hadis tersebut menyebutkan mengenai beberapa hal yang harus dihindari oleh kaum muslimin yaitu: berprasangka terhadap orang lain, mencari-cari kejelekan orang lain, dan membenci orang lain. Dengan kata lain, kita sebagai seorang muslim harus bersatu menjalin ukhuwah satu dengan yang lain agar tercipta ketenangan, kerukunan, dan persatuan umat.

Perilaku Orang yang MenerapkanMujāhadatun-Nafs dan Ukhuwah
1. Menerapkan Kontrol Diri (Mujāhadatun-Nafs) untuk Meraih Hidup Bahagia.
Bagaimana cara melakukan kontrol diri (mujāhadatun-nafs)? Cara yang pertama adalah dengan memusuhi hawa nafsu. Tanamkan dalam hati bahwa hawa nafsu harusdiperangi dan dilawan. Kedua, renungkan dampak negatif dari perilaku maksiat,dan renungkan akibat positif beramal shaleh. Setiap perbuatan dosa dan maksiatakan berakibat buruk bagi diri sendiri, misalnya hati gelisah, hidup tidak tenang,dan merasa jauh dari Allah subḥānahū wa taʻālā . Sebaliknya, amal saleh akan berakibatpositif bagi dirinya, misalnya hidup tenang, optimis, merasa dekat dengan Allah subḥānahū wa taʻālā. Ketiga, memperbanyak dan melanggengkan dzikir kepadaAllah subḥānahū wa taʻālā (żikrullāh).
2. Menerapkan Prasangka Baik (Ḥusnuẓ-Ẓann) untuk Meraih Hidup Bahagia.
Ḥusnuẓ-ẓann kepada Allah subḥānahū wa taʻālā dapat dilakukan dengan duasikap yaitu: Pertama, bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan Allahsubḥānahū wa taʻālā . Caranya dengan mengucapkan alhamdulillah, dan menggunakan nikmat sesuai petunjuk Allah subḥānahū wa taʻālā dan rasul-Nya. Kedua, bersabar atas semua cobaan dan ujian dari Allahsubḥānahū wa taʻālā. Ingatlah bahwa Allah subḥānahū wa taʻālā tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuan.  
Ḥusnuẓ-ẓann kepada orang lain dapat dilakukan dengan sikap sebagai berikut: Pertama, mudah memaafkan kesalahan orang lain. Kedua, melihat seseorang darisisi baiknya. Ketiga, mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan oleh seseorang. Keempat, bertutur kata dan berperilaku lemah lembut kepada orang lain.          
Ḥusnuẓ-ẓann kepada diri sendiri dapat dilakukan dengan sikap sebagai berikut: Pertama, percaya diri, meyakini bahwa dirinya mampu melakukan sebuah pekerjaan. Kedua, optimis menghadapi hidup, tidak mudah putus asa. Ketiga, berusahadan bekerja keras meraih cita-cita.
3. Menerapkan Persaudaraan (Ukhuwah) Untuk Meraih Hidup Bahagia.
Persaudaraan (ukhuwah) sesama mukmin akan bisa terjaga dan tumbuh dengan melakukan hal-hal dibawah ini:
1. Saling mencintai sesama mukmin karena Allah semata.
2. Menghargai perbedaan pendapat dan pandangan.
3. Membantu seorang mukmin yang mengalami kesulitan.
4. Melaksanakan hak dan kewajiban dengan penuh tanggung jawab.


BAB 1 HIDUP BERKAH DENGAN MENGHORMATI DAN MEMATUHI ORANG TUA DAN GURU.


BAB 1 HIDUP BERKAH DENGAN MENGHORMATI DAN MEMATUHI ORANG TUA DAN GURU. 



QS. al-Isrā’ [17]: 23 – 24

Sebelum kita memahami secara lebih mendalam tentang kandungannya, marilah kita baca dengan baik dan benar QS. al-Isrā’ [17]: 23-24 berikut ini

Terjemah Ayat
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. al-Isrā’[17]: 23 ).
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang danucapkanlah,”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. al-Isrā’ [17]: 24).

Penjelasan QS. al-Isrā’ [17]: 23 – 24
Surat al-Isrā’ ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan berkarakter,yang didefinisikan sebagai satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lainatau dengan kata lain karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupamoral, budi pekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Akhlak dan adab sumbernyaadalah wahyu yakni berupa al-Qur’an dan Sunah. Sedangkan budi pekerti, moral,dan sopan santun sumbernya adalah filsafat.Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kandungan ayat ini juga menunjukkan betapa kaum muslimin memiliki kedudukan yang sangat tinggi dibanding dengan kaum yang mempersekutukan Allah subḥānahū wa taʻālā. Ayat ini juga menjelaskan tentang iḥsān (bakti) kepada orang tua yang diperintahkan agama Islam adalah bersikap sopan kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita, serta mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan kita (sebagai anak).
Dalam Tafsır Ibnu Kasır dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Selanjutnya perintah berbakti kepada orang tua. Yakni memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada ibu bapak, dan janganlah kita mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada keduanya, sehingga kata-kata “ah” pun yang merupakan kata-kata buruk yang paling ringan tidak diperbolehkan. Janganlah pula bersikap buruk kepada mereka, seperti yang dikatakan oleh Ata Ibnu Rabah sehubungan dengan arti surah tersebut “Dan janganlah kamu membentak mereka” maksudnya janganlah kamu menolakkan tangan kepada keduanya. Setelah melarang mengeluarkan perkataan dan melakukan perbuatan buruk terhadap kedua orang tua, Allah memerintahkan untuk berbuat baik, bertutur sapa baik, dan berlaku sopan santun kepada kedua orang tua dengan rasa penuh hormat dan memuliakannya.
Dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ayat-ayat diatas memberi tuntunan kepada anak agar berbakti kepada kedua orang tua secara bertahap. Dimulai dengan janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”. Lalu dilanjutkan dengan mengucapkan kata-kata yang mulia. Ini lebih tinggi tingkatannya dari tuntunan pertama karena mengandung pesan penghormatan dan pengagungan melalui ucapan. Selanjutnya meningkat lagi dengan perintah untuk berperilaku yang menggambarkan kasih sayang sekaligus kerendahan di hadapan kedua orang tua.Perilaku yang lahir dari rasa kasih sayang yang menjadikan mata sang anak tidaklepas dari orang tua. Sang anak selalu memperhatikan dan memenuhi keinginan orang tuanya. Akhirnya sang anak dituntut untuk mendoakan orang tua sambil mengingat jasa-jasa mereka terlebih saat kita kecil.
QS. Luqman (13): 13-17
   
Terjemah Ayat
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajarankepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnyamempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqmān[31]: 13).
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqmān [31]: 14).
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali  kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqmān [31]: 15).
(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha teliti.” (QS. Luqmān [31]: 16).
“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqmān [31]: 17).

Penjelasan QS. Luqmān [31]: 13 – 17
Ayat 13 menjelaskan bahwa syarat untuk mendidik anak hendaknya dilandasi dengan lemah lembut dan kasih sayang. Kata ‘iẓuhu diambil dari kata wa’ẓ yang bermakna nasihat yang meyangkut berbagai kebajikan dengan cara menyentuh hati, penyampaiannya yakni dengan lemah lembut, tidak membentak, dan panggilan sayang pada anak. Kata bunayya mengisyaratkan kasih sayang. Hal ini tentunya juga berlaku kepada para guru dalam mendidik para peserta didiknya.
Dalam ayat 14, Allah menggambarkan kesusahan seorang ibu dalam merawat anaknya, mengapa hanya jasa ibu yang digambarkan dengan sedemikian lemahnya? Karena peranan ibu lebih berat dari ayah, mulai dari proses mengandung, hingga melahirkan dan menyapihnya. Kata wahnan berarti kelemahan atau kerapuhan. Yang dimaksud di sini adalah ibu dalam kondisi sangat lemah saat mengandung anaknya.
Ayat 15 menjelaskan tentang larangan taat kepada orang tua dalam mendurhakai Allah subhānahū wa ta’ālā dan nasihat Luqmān kepada anaknya tentang menolak segala bentuk kemusyrikan di manapun berada. Ayat ini sekaligus memberitahu bahwa mempergauli keduanya dengan baik hanya dalam urusan dunia, bukan keagamaan. Seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām, dia tetap berlaku santun kepada bapaknya sekalipun pembuat berhala, namun Nabi Ibrahim tidak sependapat dalam hal akidah.
Pada ayat 16, terdapat kata laīf, yang memiliki arti lembut, halus, atau kecil. Dari makna ini muncullah makna ketersembunyian dan ketelitian. Imām al-Gazālı menjelaskan bahwa yang berhak menyandang sifat ini hanyalah Allah. Dialah yang mengetahui perincian kemashlahatan dan seluk beluk rahasianya. Karena Dia selalu menghendaki kemaslahatan untuk makhluk-Nya. Ayat ini menggambarkan kekuasaan Allah subḥānahū wa taʻālā dalam menghitung amal manusia betapapun sedikitnya.
Ayat 17 menjelaskan tentang amar ma’rūf nahī munkar, yang puncak dan pangkalnya adalah salat, serta amal kebaikan yang tercermin adalah buah dari salat yang dilaksanakan dengan benar. Kata ‘azm dari segi bahasa berarti kekuatan hati atau tekad.
Hadis

1.      Riwayat Muslim
عن ابي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال رغم انف ثم رغم انف ثم رغم انف. قيل: من يا رسول الله ؟ قال: من ادرك ابويه الكبر احدهما او كليهما فلم يدخل الجنة  { رواه مسلم }   
2.      Riwayat al-Bukhārī dan Muslim
سمعت عبد الله بن عمر رضي الله عنهما يقول: جاء رجل الى النبى صلى الله عليه وسلم فا ستا ذنه في الجها د فقا ل: احي والدا ك؟ قال: نعم. قال ففيهما فجاهد { رواه البخاري ومسلم }
Terjemah Hadis 1
Dari Abū Hurairah dari Nabi Muhammad Saw., beliau: “Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasūlullāh ?” Jawab Nabi : “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya (namun ia tidak berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya), maka dia tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Terjemahan Hadis 2
Aku mendengar ‘Abdullāh bin ‘Amr Ra. berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi, lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Iya”. Maka beliau berkata: “Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti).” (HR. al-Bukhārı̄ dan Muslim).
Penjelasan Hadis
Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim tersebut menjelaskan bahwa seseorang akan celaka ketika tidak berbakti kepada orang tua. Kata “Dia celaka” diulang-ulang oleh Rasūlullāh sebanyak tiga kali menunjukkan bahwa celaka akan benar-benar terjadi kepada seseorang yang tidak berbakti kepada orang tua. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua terlebih lagi ketika kedua orang tua atau salah satu dari mereka masih hidup.
Adapun hadis riwayat al-Bukhārı̄ dan Muslim menjelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memiliki nilai pahala yang sangat besar. Bahkan nilai pahala berbakti kepada kedua orang tua oleh Rasūlullāh disamakan dengan nilai pahala jihad, berperang, dan melawan kaum kafir.

Perilaku Orang yang Menghormati dan Mematuhi Orang dan Guru
Sebelum kalian menerapkan perilaku menghormati dan mematuhi orang tua dan guru sebagai implementasi QS. al-Isrā’ [17]: 23-24; QS. Luqmān [31]: 13-17; dan hadis Nabi, terlebih dahulu kalian harus membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari. Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. al-Isrā’ [17]: 23-24 sebagai berikut.
1. Selalu beribadah kepada Allah subhānahū wa taālā dan tidak menyekutukan- Nya.
2. Membiasakan berbuat baik (ihsān) kepada kedua orang tua.
3. Membiasakan untuk tidak berkata-kata buruk kepada kedua orang tua.
4. Selalu bersikap baik dan berlaku sopan santun kepada kedua orang tua dengan rasa penuh hormat dan memuliakannya.
5. Selalu mendoakan orang tua sebagai ungkapan terima kasih seorang anak.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. Luqmān [31]: 13-17 sebagai berikut.
1. Selalu mengesakan Allah subānahū wa ta’ālā dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
2. Selalu berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ibu, karena ia telah mengandung kita dalam kepayahan, melahirkan, merawat dan mendidik kita sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka.
3. Membiasakan diri untuk berbuat baik dan menaati orang tua sepanjang tidak  untuk berbuat maksiat kepada Allah dan menyekutukan-Nya.
4. Selalu berbuat baik, karena sekecil apapun perbuatan kita, baik maupun jelek, pasti akan mendapat balasan dari Allah subhānahū wa taālā.
5. Senantiasa menjalankan salat, amar ma’rūf nahī munkar, dan bersabar.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan hadis Nabi sebagai berikut.
1. Selalu berbakti kepada orang tua terutama ketika mereka masih hidup, jika sudah tiadapun kita harus senantiasa mendo’akan mereka.
2. Senantiasa berbakti kepada kedua orang tua karena nilai kebaikannya di sisi Allah subḥānahū wa taʻālā disejajarkan dengan jihad.
Selain berbakti kepada orang tua, kita juga berkewajiban bersikap hormat dan patuh kepada guru. Kenapa kita harus patuh kepada bapak atau ibu guru? Jasa guru sangat besar bagi murid dan masyarakat, bahkan bagi kemajuan bangsa dan negara. Kita tidak akan menjadi pintar tanpa bimbingan guru. Lebih dari itu tugas guru tidak hanya memberikan pelajaran dalam berbagai ilmu pengetahuan kepada muridnya, tetapi juga bertugas mendidik mereka, agar menjadi manusia yang baik yang sehat jasmani dan rohani. Dan kelak diharapkan agar mereka menjadi warga negara yang baik, luhur budinya, cinta kepada tanah air dan bangsanya.
Guru merupakan orang tua kedua karena orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.